Klinik Sudah Digital, Pasien Ramai, tapi Mengapa Pemiliknya Masih Gelisah?

Oleh: dr. Taufik Hidayat, MM, AAK, CHIP

 

Ketika rekam medis sudah elektronik, tetapi mutu pelayanan dan kinerja klinik masih sulit dikendalikan.

Pukul 21.30, lampu ruang praktik sudah padam. Pasien terakhir telah pulang. Namun, Pak Andi, pemilik sebuah klinik pratama, masih duduk di depan komputernya.

Di layar terpampang laporan operasional klinik. Jumlah pasien cukup banyak. Dokter bekerja setiap hari. Obat tersedia. Rekam Medis Elektronik (RME) pun sudah digunakan. Seharusnya semuanya baik-baik saja. Tetapi wajah Pak Andi justru terlihat gelisah. Siang tadi, ia menerima laporan evaluasi kinerja dari BPJS Kesehatan.

Angka Kontak belum mencapai target. Rasio Rujukan Nonspesialistik perlu diperbaiki. Capaian pengelolaan pasien diabetes dan hipertensi juga masih rendah.

Padahal, setiap hari kliniknya sibuk melayani pasien. “Kok bisa? Pasien kita ramai. Dokter bekerja keras. Semua pelayanan sudah dicatat di RME. Lalu, apa yang salah?” gumamnya.

Semua Bekerja Keras, tetapi Tidak Ada yang Tahu Harus Memperbaiki Apa.

Keesokan paginya, Pak Andi mengumpulkan tim klinik.

“Dok, mengapa rujukan kita masih tinggi?”

Dokter menjawab, “Kami merujuk sesuai kondisi pasien, Pak. Tetapi saya belum punya gambaran diagnosis mana yang paling banyak dirujuk dan mana yang sebenarnya bisa ditangani di klinik.”

Pak Andi beralih kepada perawat.
“Bagaimana pasien diabetes dan hipertensi kita?”
“Jumlahnya banyak, Pak. Tapi untuk mengetahui siapa yang belum kontrol, siapa yang pemeriksaannya belum lengkap, dan siapa yang harus dihubungi, kami harus memeriksa data satu per satu.”

Manajer klinik ikut menambahkan.
“Data sebenarnya ada, Pak. Tetapi tersebar dalam berbagai laporan. Kami perlu waktu untuk mengolahnya. Sering kali, ketika hasilnya selesai, bulan penilaian sudah berakhir.”

Ruangan mendadak hening. Pak Andi mulai menyadari sesuatu.

Semua orang bekerja. Semua pelayanan dicatat. Tetapi tidak ada yang memiliki gambaran utuh tentang apa yang sedang terjadi di klinik. Ketika Masalah Baru Diketahui Setelah Terlambat.

Beberapa minggu kemudian, masalah lain muncul. Seorang pasien hipertensi yang sudah lama tidak kontrol datang dengan tekanan darah sangat tinggi.

“Kenapa pasien ini tidak terpantau?” tanya Pak Andi.

Tidak ada yang sengaja mengabaikannya.
Dokter mengira pasien akan kembali sesuai jadwal. Perawat sibuk melayani pasien yang datang. Manajemen tidak memiliki daftar prioritas pasien yang perlu ditindaklanjuti.

Sementara itu, laporan keuangan menunjukkan biaya operasional terus meningkat. Pak Andi semakin frustrasi. “Kita sudah membeli aplikasi RME. Sudah digital. Tetapi mengapa saya masih sulit mengetahui masalah sebelum masalah itu terjadi?”

Malam itu ia menyadari kenyataan yang tidak menyenangkan. Kliniknya kaya data, tetapi miskin informasi untuk mengambil keputusan. Lalu, Apa yang Sebenarnya Kurang?

Dalam sebuah diskusi, seorang kolega bertanya:
“Pak Andi, selama ini RME klinik Anda digunakan untuk apa?”
“Ya untuk mencatat pelayanan pasien.”
“Apakah data tersebut juga membantu dokter mengetahui pasien yang perlu ditindaklanjuti? Membantu manajemen mendeteksi risiko kegagalan KBK? Membantu pemilik memantau mutu, keselamatan pasien, dan kinerja bisnis?”

Pak Andi terdiam.
“Belum.”
Koleganya melanjutkan.
“Berarti masalahnya bukan karena klinik Anda belum digital. Masalahnya, data klinis Anda belum diubah menjadi informasi yang bisa digunakan untuk mengendalikan dan memperbaiki pelayanan.”

AHA! TERNYATA KLINIK KAMI MEMBUTUHKAN LEBIH DARI SEKADAR RME!

Di sinilah Pak Andi mengenal Medeva ECQMP — Electronic Clinical and Quality Management Platform.

Sebuah pendekatan platform yang menjadikan RME sebagai fondasi, kemudian mengembangkan pemanfaatan data menuju Clinical Intelligence, Quality Intelligence, Population Health Intelligence, Managed Care Intelligence, dan Business Performance Intelligence, bersama pilar-pilar ECQMP lainnya.

Pak Andi mulai membayangkan cara kerja kliniknya yang berbeda.
Bagaimana jika dokter dapat melihat pola penyakit dan rujukan yang perlu dievaluasi?
Bagaimana jika perawat memiliki daftar pasien penyakit kronis yang perlu ditindaklanjuti?
Bagaimana jika manajemen dapat memantau kesenjangan capaian KBK sebelum akhir bulan?
Dan bagaimana jika pemilik klinik dapat melihat hubungan antara mutu pelayanan, efisiensi operasional, dan keberlanjutan bisnis?
Semua itu merupakan arah kemampuan yang ingin diwujudkan melalui ECQMP.

Tiba-tiba Pak Andi tersenyum.
“AHA! Selama ini saya berpikir klinik yang sudah menggunakan RME berarti sudah bertransformasi digital. Ternyata kami baru mengubah cara mencatat, belum mengubah cara mengelola klinik!”
Kini ia memahami perbedaannya.

RME membantu klinik mencatat apa yang sudah dilakukan. ECQMP membantu klinik memahami apa yang terjadi, menentukan tindakan perbaikan, dan mengukur hasilnya.

Pak Andi akhirnya menemukan arah transformasi yang selama ini ia cari.
Bukan sekadar klinik yang semakin sibuk.
Bukan sekadar klinik yang semakin digital.
Tetapi klinik yang semakin UNGGUL pelayanannya, TERUKUR kinerjanya, dan BERKELANJUTAN usahanya.

MEDEVA ECQMP
Data Klinis Lebih Bermakna. Layanan Lebih Berkualitas. Masyarakat Lebih Sehat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *